Sabtu, 02 Februari 2013

Persahabatan


 Persahabatan  
 
 
"separuh darimu menjadi bagian dari kami,separuh darimu memberikan kekuatan pd kami dan separuh darimu menjadi setitik kehidupan untuk kami"
 
 
tetesan air langit masih saja mengguyur bumi,sejak tadi pagi.
Awal november....tentu saja hujan yg berkuasa,bhkan hujan tdk mengizinkan senja muncul hari ini,untk sekedar menjemput mentari kembali keperaduannya.
 
Dan aku masih terdiam disini sejak beberapa menit lalu,mengama isak tangis yg ku dengar. Isakan kecil milik seseorang yg sangat aku kenal. Cowok tampan dan manis begitu,kata orang tentangnya. Tapi aku tak tau, ya..karna memang aku blm pernah melihatnya.
 
Aku Thella,aku buta sejak lahir dan karena itu,aku tinggal dipanti ini.
 
Aku mulai mencoba menghampirinya,memayunginya dg payung merah mudaku.
 
"ngapain kamu disinh sendirian za??" tanyaku pada cowok yg akrab disapa reza itu.
"jgn sok care deh" ia membentakku,sambil menepir payungku. Air hujan pun mulai menyapa kulitku.
"za,ayo kita masuk,kamu kan lagi sakit" ajakku,dgn sedikit paksaan sambil menarik tangan reza.
"aarggh,LEPAS.gw blng gak usah sok care,gw gak sakit. Gw baik-baik aja,jgn fikir gw sama kyk loe dan temen-temen loe yg cacat dan penyakitan" bentak reza kasar.
 
Sakit. Ya,tentu saja aku marah dgn ucapan reza tadi. Tapi aku tetap tak tega membiarkan reza,sahabatku,kehujanan sendiri disini,apalagi ia baru sembuh dari sakitnya.
"kalo kamu gak mau masuk,aku juga bakal tetep disini nemenin kamu" ancamku.
"udah deh,PERGI SANA" reza mendorongkuu..
 
"Thellaaa..." teriak seorang cowok menghampiriku.
"thel,kamu gak ppapa??" ucp seorang cewek sambil membantuku berdiri.
Mereka adalah sahabatku. Bisma dan Dina. Bisma adalah penderita penyakit kerusakan hati kronis,sedangkan dina menderita gagal ginjal. Panti ini memang dibangun khusus untuk anak-anak seperti kami. Disini kami merasa lbh nyaman,kami merasa sama dan senasib,disini kami belajar saling melengkapi,belajar peduli dan berbagi.
 
Tapi reza... Dia berbeda dgn kami,setauku dia tdk cacat,apalagi penyakitan. 11 thn lalu,ibu panti membawa seorang anak berusia sekitar 5thn
Ibu panti bilang ia menemukan anak itu,distation.
Anak itu mengangis mencari ibunya,mungkin reza terpisah dari orang tuanya,atau mungkin sengaja ditinggal. Akhh,ntah lah,itu tdk penting untuk kami. Saat itu,kami hanya berfikir akan mempuyai teman baru lagi.
 
"orang tuaku,pasti akan menjemputku"
 
itu kalimat andalan reza.
Sejak kecil dia selalu menolak saat kami ajak bermain. Dia tdk suka dgn keberadaan kami,dia lbh suka sendiri,asik dgn dunianya sendiri. Tapi seiring berjalannya waktu,sosok asli reza mulai muncul.
Reza anak yg lucu dan baik hati. Pada dasarnya reza itu ramah dan penyanyang,kami semua jadi mulai terbiasa membaur dgnnya,diapun mulai bisa menerima kami semua kami semua sbg anggota keluarga barunya. Aku,Dina,Bisma dan Reza mmg berteman sangat dekat. Kami sering bermain bersama. Reza mengajari banyak hal pada kami,termasuk semangat untk sembuh. Reza yg mengajari Bisma bermain gitar,menemani bermain sepak bola,bhkan reza jg mau membantu dina merawat bunga-bunganya. Reza juga selalu menceritakan hal-hal yg tdk bisa aku lihat,seperti keindaha saat mentari terbenam,bunga yg bermekaran,rinai hujan,juga tentang sosok Bisma dan Dina. Reza bilang Bisma itu cakep,pendek,kulitnya sawo mateng,sedangkan Dina,cantik dan chubby. Dan reza blang kalo aku itu manis,dgn dagu tirus dan rambut lurus yg membingkai wajahku*ciiebangreza -___-".
 
Tapi ntah mengapa sejak beberapa bulan lalu,sosok reza berubah,ia menjadi reza yg dulu,yg tak mengizinkan seorangpun masuk dlm kehidupannya,reza yg cenderung kasar dan sangat menyebalkan.
"za,lo apa-apaan sih?" bentak Bisma
"LOE GAK USAH IKUT CAMPUR"
"tp kita sahabat kamu za,dan kita sedih liat kamu kyk gini" tambah Dina.
"kamu kenapa sh za?? Kita kangen reza yg dulu." tanyaku.
"ini gw reza. Yg ada dihadapan lo semua,inilah reza yg asli. Reza yg kemarin udah mati,MATI" Reza pergi,diiringi deru angin yg menusuk kulit.
 
"KAMU TETEP SAHABAT KITA,ZA" Teriakku,aku tau reza pasti tak peduli dg kata-kataku.
 
 
 
-----
 
 
sore itu selepas hujan,kami bertiga,aku,bisma dan dina,berkumpul didanau bintang. Danau ini,reza lah yg menemukannya
Sudah berapa lama reza tak mengunjungi,tempat ini. Akhir-akhir ini,reza lbh sering mengunci diri dikamarnya.
 
Danau ini dikelllingi daun berwarna hijau cerah,dihiasi butiran-butiran bening sisa air hujan. Air danaunyapun bergerak perlahan membiaskan langip yg kala itu dihiasi pelangi. Saat malam danau ini akan menghamparkan ribuan bintang dan pedar cahaya bulan.
 
"ekh,ekh lihat ada pelangi" kata Bisma.
"ohh ya??" balasku.
"iya Thell" jwb dina. "andai ada reza disini,pasti dia akan menceritakan warna-warni tentang pelangi itu" batinku.
"aku kangen reza" gumamku,
"kita juga,thell" kata bisma dan dina bersamaan.
 
Setelah itu,kami terdiam. Tak berapa lami pelangi pun hilang,kami pun beranjak pulang,tapi kemudian derap kami terhenti,bisma dan via melihat reza melangkah perlahan kearah sebuah pohon. Ia menggali lubang disana dan menguburkan sesuatu,sejenak reza terdiam lalu air matanya mulai menetes perlahan.
 
"ngapain ya reza disitu,kenapa dia nangis" dina bertanya-tanya.
"reza nangis?? Aku mau samperin dia." kataku.
"jgn thell,ntar lo kena bentak lagi,udahlah mungkin dia udah gak butuh kita." cegah bisma.
"tp dia sahabat kita,Bis" ktaku.
"dulu" sergah bisma.
"selamanya bis,SELAMANYA" Aku pergi menjauh.
 
 
-----
 
 
2minggu kemudian.
 
 
Suara guntur dan angin menghiasi malam itu. Kami kini,membisu,menatap sosok lemah itu dari balik kaca. Ia terlihat begitu letih,guratan kesakitan hampir menghilangkan ketampanannya. Rambutnya menipis,kulitnya pucat,bibirnya pun putih,dan tangan yg dulu selalu diulurkan untuk membantu teman-temannya,kini terkulai tak berdaya.
Air mata??? Tentu tak dapat dihitung,sudah berapa banyak yg tertumpah.
 
"reza selalu bilang,kalian segalanya untuknya, maafkan sikap reza selama ini pd kalian,dia hanya tdk ingin kalian sedih saat dia pergi nanti" jelas ibu panti kpd kami.
"ibu jgn bilang begitu,reza pasti sembuh. Kita selalu mendoakannya." ucapku getir.
 
Semua hanyut dan kesedihan dan doa. Doa untuk sahabat terbaik kami. Aku takut,ntah mengapa aku merasa reza akan segera pergi meninggalkan kami,tp sgera ku tepis perasaan itu.
Bagaimana jadinya kami tnpa dia,bukankah dia yg selama ini menyemangati kami,yg ikut merasakan kesakitan bisma,yg ikut menangis melihat dina kemo,yg menjadi tongkatku,cahayaku. Tentu tuhan tdk akan sejahat itu,mengambilnya dari kami. Bersamaan dgn doa yg terus mengalir untk reza yg sedang berjuang didalam sana,memori tentang rezapun mengalir dlm pikiran kami masing-masing.
 
 
>>FLASHBACK
 
HHAHAHA
 
kami kompak menertawakan reza yg terpeleset ke air danau saat itu,reza tentu saja hanya nyengir dgn baju yg basah kuyup. Ia menghampiri kami.
 
"bissmmmmaaaaaa" reza memeluk bisma.
"huwwa,reza. Gw jadi ikutan basah deh" keluh bisma.
"ekh,ekh,liat tu,ada pelangi" tunjuk dina.
"ekh iya,tapi kok gak ada warna hijaunya.ya" tanya bisma.
"bukan gak ada bis,mungkin belum jelas. Pelangi itu akan selalu dtang dgn warna yg lengkap,sama kyk kita yg selalu saling melengkapi agar semuanya menjadi lbh mudah dan indah" jelas reza.
"pengen deh,persahabtn kita kyk warna-warni pelangi,selalu lengkap. Tapi syangnya gak mungkin ya,suatu hari,salah satu dari kitaa...." "Bisma pasti dpt pendonor hati,Dina pasti dpt ginjal yg cocok dan Thella pasti bisa melihat lagi,percaya deh,suatu saat kalian akan sembuh dan menatap pelangi itu smbil tersenyum" reza memotong perkataan Dina sebelumnya,
ia tdk mau membicarakan kematian atau perpisahan.
"iya,aku jdi gak sabar pngen bisa liat pelangi" ucapku
 
>>FLASHBACK OFF
 
 
"bangun za,gw mohon" batin bisma
"jgn tinggalin kita za" bisik dina dlm hatinya
 
 
-----
 
 
kami berlari kecil dikoridor rumah sakit. dina terus menggandeng tanganku. Senyum manis merekah disudut bibir kami.
Reza sadar.
 
"rezzaaaaa.." sapa bisma.
"haii.." reza tersenyum,kami menatapnya sedih.
"pda kenapa sih,gak usah didramatisir gitu deh,gw sadar bukan buat liat kalian nangis bombay begitu" kata reza.
 
"loe harus janji za" kata bisma.
"janji apa" tanya reza.
"janji gak bakal ninggalin kita" lanjut bisma.
"iya,dan kamu jg harus cepet sembuh za,kamu kan udah janji mau nemenin aku liat pelangi. Sebentar lagi aku bakal bisa liat za" pintaku pada reza.
"kita semua dpt pendonor za,kita bkal sembuh,kayak yg kamu bilang dulu." dina tersenyum,reza membalasnya.
"gw pngen jalan-jalan kebukit bintang.kalian mau anterin gw kan?? Gak akan lama kok,sebentar aja" pinta reza. Melihat keadaannya yg stabil,kamipun akhirnya setuju.
"yaudah,tapi sebentar aja ya,loe kan hrs istirahat" kata bisma,reza mengangguk setuju.
"yaudah aku izinin kedokter dulu ya" usul dina.
 
 
 
-----
 
 
kamipun mulai menyusuri jalan berumput menuju danau bintang,dan kalian tau?? Reza meminta aku,aku yg buta hni,untuk mendorong kursi rodanya. Dia selalu mengarahkanku,menuntunku kejalan yg tepat. Aku semakin sadar akan sangat sulit berpisah darinya,dia adalah titik cerah yg tuhan kirimkan untuk sosok sosok dalam kegelapan seperti aku.
 
Saat sampai,kami disap oleh bau tanah yg merebak dan tetesan air yg bergelantung di ranting-ranting pohon. Tapi air danaunya berubah,tdk lagi tenang seperti biasanya,tapi kini beriak seakan sedang gelisah.
 
"ekh,ekh,pelanginya udah muncul" teriak Dina. "selalu indah" guman reza.
 
Kami semua menatap barisan warna itu,akupun seakan menemukan lengkungan berwarna itu dlm kegelapan. Memang dilihat berapakalipun tak akan mengurani keindahannya.
 
"aku pengen jadi warna merah,kuat dan berani,supaya bisa jagain kalian" kta bisma,tiba-tiba.
"kalo aku pngen jadi kuning,ceria dan periang,supaya aku bisa bikin hari kalian selalu cerah" lanjutku.
"aku pngen jadi warna hijaunya,tenang dan lembut. Biar aku bisa bawain kalian kesejukah" tambah dina.
"dan aku pngen jadi hujannya" ucap reza,kami semua menoleh kearahnya.
"kenapa hujan za. Kenapa gak jadi langitnya,langit tempat pelangi bergantung" saranku. "suatu saat,kita pasti akan pisah,dan aku bakal jadi orang pertama yg mempersatukan kita. Kalian tau kan,pelangi gak akan muncul,tanpa seruan hujan. Karna itu aku pengen jadi hujan,hujan yg akan memanggil kalian,pelangiku."
 
aku menangkap kata-kata itu sbg ucapan selamat tinggal. Aku berfikir bahwa reza sadar bukan utk sembuh,tapi hanya utk mengizinkan kami melihat senyumnya utk yg terakhir kali.
 
"kita balik yuk za" ajakku.
"ntar thell,tunggu pelanginya ilang" reza menolak.
 
Kami menatap pelangi itu,pelangi terakhir yg bisa kami nikmati bersama sosok reza,karena setelah itu,bersamaan dgn pelangi yg lenyap,mata rezapun perlahan merapat,tapi kedua sudut bibirnya,tetap membentuk lengkungan manis.
 
"hiks" aku mendengar dina terisak.
"pelanginya udah ilang za,ayo kita balik" lirh bisma.
 
Kita sama-sama tau bahwa jiwa reza telah meninggal raganya. Aku menggenggam tangan reza,dingin.
 
Saat menuju rumah sakit aku kembali yg mendorong kursi roda itu. Tapi kini tentu berbeda,karna raga yg duduk diatasnya tak lagi menunjukan arah yg harus ku tempuh. Kami semua terdiam,merasak gejolak kesedihan dlm relung hati.
 
 
-----
 
 
hari itu cuaca cerah,burungpun berterbangan diangkasa. Kami berdiri disini,dibawah sebuah pohon besar ditepi danau bintang. "sekarang bis" kata dina
 
bisma pun mulai menggali tanah itu,tak berapa lama sdbuah kotak muncul didasar lubang yg tdk terlalu dalam. Bisma mengambil dan membersihkannya dari beberapa bulir tanah. Kami bertiga sepakat utk segera membukanya. Membuka kotak yg reza kubur waktu itu. Saat kami membukanya,kami dapati 5buah benda disana, hiasan meja berbentuk gitar dari bisma,syal biru tua dari dina,gantungan kunci berbntuk bola basket dari ku dan selembar foto. Foto kami berempat sdg tertawa lepas menatap kamera.
 
"ternyata memang manis" batinku.
 
Ya,inilah kali pertama aku melihat wajah reza. Sekarang kami bertiga tlh sembuh,pendonor itu tlah memberika separuh dari dirinya,untuk menjadi setitik kehidupan untuk kami.
 
Dan terakhir sepucuk surat yg ditaruh didasar kotak. bisma mulai membuka dan membacanya. Aku dan dina mendengarkannya.
 
Gw Muhammad Reza Anugrah,gw bukan cowok hebat,gw juga bukan cowok kuat,cuma seorang cowok yg baru nemuin kebahagian gw dsini,gw baru ngerasain gmana rasanya disanyangi,gmana indahnya berbagi,dari kecil gw sendiri,gw dibuang sama nyokap gw. Tapi gw bersyukur karena dgn gitu akhrnya gw bisa ketemu mereka.
Thella
Dina
dan Bisma.
 
Sobat gw,semangat gw,hidup gw.
Gw rela tuker apapun yg gw punya buat mereka. Saat gw tau,mereka bakal cepet ninggalin gw,gw takut,gw sedih.gw berdoa agar gw duluan yg dipanggil tuhan,supaya gw gak perlu ngerasain sedihnya kehilangan mereka. Dan tuhan kabulin doa gw,kanker otak stadium akhir. Sesaat gw fikir itu anugrah.tapi kemudian gw sadar,gimana mereka kalo gw pergi,siapa yg bakal jagain mereka.
 
Berpura-pura semuanya baik-baik aja,tentu bukan hal yg mudah,jadi gw milih jauhin mereka.
Gw gak mau semangat mereka buat sembuh hilang saat tau keadaan gw.
 
Gw nyesel sama doa gw,gw gak yakin sanggup biarin mereka sedhh.gw gak akan sanggup ninggalin mereka,gw msh pengen liat senyum mereka. Akhirnya gw putusin, gw titipin sebagian dari gw kemereka. Mata untuk thella hati untuk bisma dan ginjal untuk dina. Semoga dgn gini gw bakal tetep bisa disisi mereka meski dlm wujud yg nantinya akan berbeda.
 
 
 
Tak ada airmata yg tercurah dari kami bertiga,melepas sahabat terbaik kami tentu bukan dgn airmata. Lagipula hujan telah mewakili kami.
 
Ya saat itu hujan turun,padahal hari sangat cerah,bhkan mentari tak beranjak dari tempatnya. Kami berlari-lari kecil ditengah hujan,seperti yg sering reza lakukan dulu,kami berkejaran dan tertawa lepas menikmati hujan. Biarlah raganya menjauh,tapi kasih sayangnya tentu mashh mengalir dlm deru darah kami.
 
 
"ekh,liat ada pelangi" tunjuk dina
"kamu berhasil jadi hujan za" ucapku lirih.
"reza berhasil bawain pelangi buat kita" lanjut alvin.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar